INTELIJENPOS.com, Ternate – Tindakan pembubaran paksa terhadap kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter berjudul Pesta Babi di kawasan Benteng Oranje, Ternate, Sabtu malam (09/05/2026), memicu gelombang kritik. Acara yang diinisiasi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate bersama Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) tersebut dihentikan oleh sejumlah personel TNI saat agenda sedang berlangsung.
Alasan Keamanan dan Tudingan Provokasi
Dandim 1501/Ternate, Kolonel Inf. Jani Setiadi, memberikan klarifikasi terkait langkah anggotanya. Menurutnya, judul film dan atribut spanduk (banner) kegiatan tersebut dianggap memiliki muatan “provokatif”. Pihak keamanan mengkhawatirkan hal tersebut dapat memicu polemik yang mengganggu kondusivitas serta stabilitas sosial di tengah masyarakat Ternate.
AJI: Preseden Buruk bagi Ruang Demokrasi
Merespons insiden tersebut, Ketua AJI Ternate, Yunita Kaunar, menyatakan kekecewaan mendalam. Ia menegaskan bahwa pembubaran diskusi dan pemutaran film adalah langkah mundur bagi demokrasi dan kebebasan berkumpul yang dijamin oleh undang-undang.
“Kami sangat menyayangkan tindakan ini. Pembubaran ruang diskusi publik seperti ini bisa menjadi preseden buruk yang mengancam kebebasan berekspresi warga sipil ke depannya,” tegas Yunita.
Media Edukasi yang Terhambat
Film dokumenter tersebut sejatinya dirancang sebagai media edukasi dan pemantik diskusi publik mengenai isu-isu sosial yang relevan. Namun, penghentian paksa ini justru menimbulkan spekulasi dan sorotan tajam dari berbagai kalangan, mulai dari jurnalis, pegiat hak asasi manusia, hingga warganet di media sosial.
Hingga berita ini diturunkan, peristiwa di Benteng Oranje tersebut terus menjadi bahan perdebatan hangat mengenai di mana batas antara stabilitas keamanan dan hak warga negara dalam berpendapat secara damai dan terbuka.
(Lukhy)







Komentar