INTELIJENPOS.com, MANADO – Di antara barisan Tim URC Bravo Satreskrim Polresta Manado, sosok AIPDA (Anumerta) Veky Natari berdiri dengan mata awas dan mental baja. Sebagaimana diketahui, pada Selasa (25/8/2026) pukul 05.30 WITA, detik-detik penutup dari sebuah babak panjang pengabdian itu diabadikan dalam misi membongkar jaringan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) lintas provinsi.
Selanjutnya, bersama rekan-rekan setimnya di bawah komando Kanit Resmob IPDA Kresna Aditya Bagus Perdana, S.Tr.I.K, serta melalui koordinasi cepat dengan Resmob Limboto, Gorontalo, tim mengepung dan membekuk gembong curanmor berinisial PK alias Pandi (25). Penangkapan tersebut menjadi bukti nyata kesigapan, insting tajam, dan keberanian seorang “buser sejati” yang mendedikasikan hidupnya demi keamanan bumi Nyiur Melambai.

Namun, takdir berkata lain. Berdasarkan informasi yang dihimpun, tepat sehari setelah sukses menunaikan misi besar di lapangan, almarhum menghembuskan napas terakhirnya pada Rabu (26/8/2026). Kepergian yang mendadak ini kontan menyelimuti Polresta Manado dalam duka yang mendalam.
Terkait peristiwa tersebut, Kapolresta Manado Kombes Pol. Irham Halid beserta seluruh jajaran Polresta Manado, Staf, dan Bhayangkari turut menyampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya AIPDA VEKY NATARI. Dalam penyataannya, pihak kepolisian mendoakan agar Tuhan Yang Maha Kuasa menerima segala pengabdian dan kebaikan almarhum, serta memberikan kekuatan, penghiburan, ketabahan, dan keikhlasan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Suasana haru kemudian berlanjut pada ibadah pemakaman yang dilangsungkan hari Minggu (30/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, ibadah dilayani oleh Pdt. Vonny Mangare,M.Th., dengan mengangkat pesan khotbah dari 2 Timotius 4:7-8:
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”
Melalui perenungan firman tersebut, ditekankan bahwa kematian bukanlah akhir yang sia-sia, melainkan sebuah purna tugas rohani yang menandakan tuntasnya panggilan Tuhan serta kedaulatan Allah atas hidup manusia. Oleh karena itu, seragam dan tugas yang diemban oleh AIPDA Veky Natary semasa hidup dipandang sebagai bentuk pengabdian dan pelayanan di bumi, di mana setiap orang percaya diyakini akan menerima kemuliaan dari Tuhan tanpa goyah menghadapi penderitaan hidup.

Pada akhirnya, kendati raga sang buser terbaik telah berpulang ke pangkuan Bapa di Surga, jasa dan kenangan almarhum akan selalu dikenang oleh rekan seperjuangan. Selamat jalan Bhayangkara Sejati, terima kasih atas setiap keberanian, dedikasi, dan pengorbananmu. Istirahatlah dalam damai abadi.
(Red)







