Buku “Topeng Pelayanan” Siap Diluncurkan, Menguak Realitas di Balik Kehidupan Pelayan Tuhan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:12

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

INTELIJENPOS.COM, BITUNG — Sebuah buku reflektif berjudul Topeng Pelayanan: Membuka Kedok di Balik Mimbar direncanakan segera diluncurkan. Karya ini mengangkat realitas kehidupan pelayan Tuhan yang tidak selalu terlihat dari penampilan luar, sekaligus mengajak para hamba Tuhan untuk berani mengevaluasi motivasi, integritas, dan makna pelayanan yang sesungguhnya

Buku karya Ps. Samuel H. Ladi, S.Pd.K., CPP ini lahir dari pengalaman dan refleksi penulis dalam menjalani kehidupan pelayanan. Melalui tulisan yang kritis dan reflektif, buku ini mengajak pembaca melihat sisi lain pelayanan yang kerap tersembunyi di balik kesibukan, tanggung jawab, dan penampilan rohani di hadapan jemaat.

Di balik mimbar, seorang pelayan Tuhan tetaplah manusia yang dapat mengalami kelelahan, luka batin, kekeringan rohani, kebutuhan akan pengakuan, bahkan kehilangan arah. Realitas tersebut menjadi titik awal bagi buku ini untuk mengangkat pertanyaan mendasar: apakah seseorang sungguh-sungguh melayani Tuhan, atau justru sedang mempertahankan citra di hadapan manusia?

Mengungkap Realitas di Balik Penampilan Rohani

Dalam buku Topeng Pelayanan: Membuka Kedok di Balik Mimbar, kata “topeng” digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan jarak antara penampilan seseorang di hadapan publik dan keadaan batinnya.

Seorang pelayan dapat terlihat kuat, saleh, bahagia, dan penuh pengabdian, tetapi pada saat yang sama menyimpan pergumulan yang tidak diketahui orang lain. Tuntutan untuk selalu terlihat kuat, berhasil, dan rohani dapat membuat pelayanan perlahan berubah menjadi upaya mempertahankan citra.

Buku ini membahas berbagai bentuk topeng dalam pelayanan, mulai dari topeng kesalehan, kekuasaan, popularitas, korban, kekuatan, hingga kebahagiaan palsu.

Namun, pesan yang hendak disampaikan bukanlah untuk menghakimi atau menuding pelayan tertentu. Sebaliknya, pembaca diajak melakukan pemeriksaan diri melalui pertanyaan yang mendalam: “Topeng apa yang mungkin sedang saya kenakan dalam pelayanan?”

Pendekatan tersebut menjadikan buku ini sebagai ruang refleksi bagi pendeta, pemimpin rohani, aktivis gereja, dan siapa saja yang ingin memahami kembali motivasi di balik pelayanan mereka.

Mendapat Endorsement dari Penulis dan Akademisi

Kehadiran buku ini mendapat apresiasi dari Ambrosi Loho, S.Fil., M.Fil., penulis, dosen pada Departemen Studi Humaniora dan Interdisipliner Universitas Ciputra Surabaya, serta pegiat budaya, seni, dan tradisi.

Dalam endorsement-nya, Ambrosi menilai buku ini berangkat dari pengalaman dan refleksi penulis mengenai kehidupan pelayanan yang tidak selalu sempurna. Ia menyoroti bahwa persoalan utama bukan sekadar apakah seseorang memakai topeng, melainkan mengapa topeng tersebut dirasa perlu dipertahankan.

Menurut refleksinya, melepaskan topeng bukan berarti berhenti melayani, melainkan berani menjalani pelayanan dengan lebih jujur.

Buku ini mengajak pembaca bergerak dari citra menuju kejujuran, dari kesibukan menuju keintiman dengan Tuhan, serta dari sekadar menjalankan peran menuju penghayatan panggilan.

Ambrosi juga menyampaikan apresiasi atas lahirnya karya tersebut dan berharap buku ini menjadi ruang refleksi serta pembaruan bagi kehidupan pelayanan, sekaligus mendorong lahirnya karya-karya literasi yang kritis, reflektif, dan inspiratif bagi gereja, masyarakat, serta kehidupan kemanusiaan.

“Lain di Bibir, Lain di Hati”

Apresiasi lainnya disampaikan oleh Reymond Katuuk, M.Pd.K., yang menyoroti persoalan keselarasan antara perkataan dan motivasi dalam kehidupan pelayanan.

Melalui ungkapan “lain di bibir, lain di hati”, Reymond menggambarkan kemungkinan adanya perbedaan antara apa yang ditampilkan seorang pelayan Tuhan dan apa yang sesungguhnya menjadi motivasi di dalam hatinya.

Ia menilai buku yang ditulis Samuel H. Ladi ini menarik untuk dibaca karena mengulas persoalan topeng pelayanan melalui pengalaman dan kesaksian hidup penulis.

Buku ini juga dinilai dapat menjadi bahan bacaan dan pegangan reflektif bagi para pelayan serta hamba Tuhan untuk mengevaluasi kembali arti pelayanan yang sesungguhnya.

Dukungan dari kedua pemberi endorsement tersebut memperkuat pesan utama buku, yakni pentingnya kejujuran hati, integritas, dan kesediaan untuk terus bertumbuh dalam menjalankan panggilan pelayanan.

Kisah dan Refleksi yang Lahir dari Perjalanan Pelayanan

Bagi penulis, Topeng Pelayanan bukan sekadar tulisan tentang fenomena yang dapat terjadi di lingkungan gereja, melainkan ajakan untuk melihat kehidupan pelayanan secara lebih jujur.

Pengalaman menjalani pelayanan menjadi ruang pembelajaran untuk memahami bahwa seseorang dapat terlihat kuat di hadapan banyak orang, tetapi tetap membutuhkan pemulihan dan pembaruan dalam kehidupan pribadinya.

Melalui buku ini, Samuel mengajak pembaca untuk tidak hanya sibuk menilai kehidupan orang lain, tetapi juga berani memeriksa hati dan motivasi diri sendiri.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah berbagai tuntutan pelayanan, ketika keberhasilan, aktivitas, jabatan, dan pengakuan terkadang lebih mudah terlihat daripada kualitas kehidupan batin seseorang.

Buku ini menegaskan bahwa pelayanan yang sehat bukan berarti pelayanan tanpa pergumulan, melainkan pelayanan yang dijalani dengan kejujuran, kerendahan hati, dan kesediaan untuk terus dibentuk.

Menuju Peluncuran Buku

Rencana peluncuran Topeng Pelayanan: Membuka Kedok di Balik Mimbar diharapkan menjadi bagian dari perjalanan literasi yang membuka ruang percakapan tentang integritas, motivasi, dan kehidupan rohani para pelayan Tuhan.

Karya ini tidak hanya ditujukan bagi mereka yang berdiri di atas mimbar, tetapi juga bagi setiap orang yang mengambil bagian dalam pelayanan dan ingin terus bertumbuh dalam kejujuran serta tanggung jawab.

Pada akhirnya, buku ini membawa pesan bahwa pelayanan bukan hanya tentang apa yang dilakukan seseorang di hadapan manusia, melainkan juga tentang siapa dirinya ketika memilih untuk melayani.

Sebab, di balik setiap pelayanan yang terlihat, ada hati dan motivasi yang perlu terus diperiksa.

Tentang Buku

– Judul: Topeng Pelayanan: Membuka Kedok di Balik Mimbar
– Penulis: Ps. Samuel H. Ladi, S.Pd.K., CPP
– Tema: Refleksi pelayanan, integritas, motivasi, dan kejujuran hati.
– Status: Dalam persiapan menuju peluncuran.

(Redaksi)

Berita Terkait

BNN Kota Bitung Sampaikan Materi P4GN dalam Kegiatan Literasi Kolaboratif Bersama Pegadaian dan Dinas Perpustakaan
Aksi Peduli Sosial Pengusaha Muda Reinaldy Ibrahim untuk Korban Kebakaran Pateten Bitung
Jangkau Empat Lingkungan, AP IBM Manatas Gencarkan Edukasi Bahaya Narkoba
Warga Manembo-Nembo Atas Diperkuat, BNN Kenalkan IBM sebagai Garda Pemulihan Berbasis Masyarakat
Workshop Peningkatan Kapasitas Pelatih Kolintang 2026 Berjalan Lancar
Lawan Narkoba dari Tingkat Kelurahan, Manembo-Nembo Atas Resmi Bentuk Tim Agen Pemulihan IBM
Sumuwuk Bitung Ukir Prestasi, Jadi Satu-satunya Komunitas Budaya Lolos Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan 2026
Fohoway Indonesia Wujudkan Komunitas Sehat Melalui Literasi Kesehatan dan Layanan Terapi
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 19:38

BNN Kota Bitung Sampaikan Materi P4GN dalam Kegiatan Literasi Kolaboratif Bersama Pegadaian dan Dinas Perpustakaan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:12

Aksi Peduli Sosial Pengusaha Muda Reinaldy Ibrahim untuk Korban Kebakaran Pateten Bitung

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:12

Buku “Topeng Pelayanan” Siap Diluncurkan, Menguak Realitas di Balik Kehidupan Pelayan Tuhan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:08

Jangkau Empat Lingkungan, AP IBM Manatas Gencarkan Edukasi Bahaya Narkoba

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:18

Warga Manembo-Nembo Atas Diperkuat, BNN Kenalkan IBM sebagai Garda Pemulihan Berbasis Masyarakat

Berita Terbaru