INTELIJENPOS.com, BITUNG – Kota Bitung tidak hanya dikenal sebagai kota pelabuhan dan industri, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya gerakan seni dan budaya yang semakin dinamis. Salah satu bentuk perkembangan tersebut terlihat dari semakin hidupnya kembali musik tradisional kolintang di tengah masyarakat, terutama melalui peran komunitas dan sanggar seni yang aktif melakukan pembinaan lintas generasi.
Kolintang sebagai warisan budaya Minahasa memiliki nilai historis dan estetika yang tinggi. Dahulu, alat musik ini dimainkan dalam upacara adat, namun kini mengalami transformasi fungsi menjadi media ekspresi seni, pendidikan, hingga hiburan modern. Di Bitung, perkembangan kolintang tidak hanya terlihat dari meningkatnya jumlah pemain muda, tetapi juga dari inovasi dalam penyajian musik yang lebih kreatif dan kolaboratif.

Perkembangan kolintang di Bitung juga tidak lepas dari kontribusi para seniman lokal seperti Stive Tuaidan, Yosep Untu, dan Sonny Runtu, serta tokoh-tokoh seni lainnya yang terus menjaga eksistensi dan kualitas permainan kolintang. Dedikasi para seniman ini menjadi fondasi kuat dalam mempertahankan identitas budaya sekaligus mendorong regenerasi pemain kolintang di kalangan generasi muda.
Selain peran individu, dukungan pemerintah juga menjadi faktor penting dalam keberlanjutan kolintang di Kota Bitung. Sejak masa kepemimpinan Hanny Sondakh, dilanjutkan oleh Max Lomban, Maurits Mantiri, hingga Hengky Honandar, kolintang tetap eksis dan terus dilestarikan. Pemerintah daerah secara konsisten memberikan ruang, akses, dan dukungan bagi sanggar seni serta komunitas budaya untuk mengembangkan warisan daerah ini. Kebijakan yang berpihak pada pelaku seni turut membuka peluang tampil di berbagai event, baik lokal, nasional, maupun internasional.
Peran strategis juga ditunjukkan oleh Sanggar Seni Budaya Sumuwuk, yang berdiri sejak tahun 2021. Sanggar ini menjadi salah satu motor penggerak pelestarian budaya lokal melalui pendekatan edukatif dan inklusif. Salah satu program unggulannya adalah pelatihan kolintang gratis yang terbuka untuk semua kalangan. Peserta yang terlibat berasal dari berbagai jenjang usia, mulai dari anak-anak SD, SMP, SMA, hingga orang dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa minat terhadap kolintang tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan telah menjadi gerakan bersama masyarakat.
Program pelatihan gratis ini menjadi strategi penting dalam menjaga keberlanjutan budaya. Selain mengajarkan teknik bermain kolintang, sanggar juga menanamkan nilai-nilai budaya, kedisiplinan, dan kerja sama. Dengan demikian, kolintang tidak hanya dipahami sebagai alat musik, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter.
Menariknya, pengembangan kolintang di Bitung juga mulai dikaitkan dengan dunia literasi dan penulisan sastra. Musik kolintang menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan puisi, cerpen, maupun karya tulis bertema budaya lokal. Irama kolintang yang khas seringkali diterjemahkan ke dalam bahasa sastra sebagai simbol harmoni, kebersamaan, dan identitas daerah. Dalam berbagai kegiatan komunitas, pertunjukan kolintang kerap dipadukan dengan pembacaan puisi atau narasi budaya, menciptakan pengalaman artistik yang lebih kaya.
Sanggar Seni Budaya Sumuwuk turut mengambil peran dalam pengembangan ini dengan mengintegrasikan kegiatan seni pertunjukan dan literasi. Sanggar ini telah terdaftar di Balai Bahasa Provinsi serta menjalin kerja sama dengan Dinas Perpustakaan Kota Bitung dan Minahasa Utara. Keikutsertaan dalam berbagai kegiatan literasi, baik di tingkat komunitas, pendidikan, maupun pemerintahan, menjadi bukti konsistensi sanggar dalam membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan.
Selain kolintang, penguatan identitas budaya juga terlihat melalui pelestarian tarian Kabasaran. Tarian perang khas Minahasa ini tidak hanya ditampilkan dalam acara adat, tetapi juga dalam berbagai event budaya, termasuk kegiatan literasi dan pertunjukan seni. Kolaborasi antara musik kolintang dan tarian Kabasaran menciptakan representasi budaya yang utuh, memperlihatkan kekayaan tradisi Minahasa kepada masyarakat luas, termasuk dalam panggung nasional hingga internasional seperti pertunjukan di kapal pesiar.
Pengembangan alat musik tradisional juga menjadi bagian penting dari gerakan ini. Inovasi dalam bentuk, nada, dan teknik permainan kolintang terus dilakukan tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak bersifat statis, melainkan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Melalui sinergi antara musik, sastra, dan seni pertunjukan, Kota Bitung menunjukkan bahwa budaya lokal dapat berkembang secara kreatif dan relevan. Peran komunitas seperti Sanggar Seni Budaya Sumuwuk menjadi bukti bahwa pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi, dedikasi, dan ruang belajar yang terbuka bagi semua. Dengan keterlibatan generasi muda serta dukungan berbagai pihak, kolintang dan budaya lokal lainnya tidak hanya akan bertahan, tetapi juga terus berkembang sebagai identitas yang membanggakan bagi Kota Bitung.
Sumber :
Reymond G P Katuuk, S.Pd., M.Pd
(Pegiat Literasi-Budaya/Sanggar Sumuwuk)
(Sam)







