INTELIJENPOS.com, Tomohon – Setiap pagi, Kota Tomohon terbangun dengan beban berat: 51,6 ton sampah. Selama bertahun-tahun, gunungan limbah ini hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian sesak. Namun, di sudut Tomohon Barat, seorang pria bernama Jemmy Makasala sedang menulis ulang sejarah kelam pengelolaan sampah di kotanya.
Jemmy, seorang fasilitator komunitas, memiliki prinsip teguh: tidak ada sesuatu pun yang benar-benar sia-sia. Baginya, sisa makanan bukan sekadar limbah, melainkan bahan baku pupuk dan eco-enzyme yang mampu menghidupkan tanah.
Menembus Batas Sistem yang Tak Berdaya
Krisis sampah di Tomohon, terutama bagi warga yang tinggal dekat TPA Tara-Tara, bukan lagi sekadar angka statistik. Ia adalah bau busuk yang menyusup ke jendela rumah, kekhawatiran akan kualitas air minum, hingga ancaman gas metana ke atmosfer.

Walikota Tomohon, Caroll Senduk, mengakui adanya tantangan besar ini. Ia menyoroti lima masalah utama: koordinasi lintas sektor yang lemah, data yang tidak akurat, hingga kesenjangan antara sistem formal dengan praktik di lapangan. Di sinilah intervensi dunia internasional melalui UN-Habitat (Proyek ASUS Fase II) mulai masuk, menggandeng sosok lokal seperti Jemmy.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Sore itu di Tomohon Barat, Jemmy tampak menyusuri jalanan yang sudah ia hafal di luar kepala. Ia bukan sekadar lewat; ia memeriksa 60 titik kantong kompos yang sengaja diletakkan dengan jarak setiap 100 meter.
“Agar warga mudah membuang sampah organik mereka,” jelas Jemmy singkat. Langkah sederhana ini menjadi krusial karena 70 persen dari puluhan ton sampah harian Tomohon adalah organik.
PPSOT: Jantung Ekonomi Sirkular
Melalui pendampingan UN-Habitat yang melibatkan 70 pejabat dan pakar, muncul sebuah peta jalan: pengembangan Fasilitas Pengolahan Limbah Organik Terpadu Tomohon (PPSOT). Di tempat inilah, Jemmy mengawasi keajaiban kecil.

Limbah organik diubah menjadi eco-enzyme yang serbaguna—mulai dari pupuk alami, disinfektan, hingga bahan sabun. Bahkan, cairan ini disemprotkan di lokasi TPA untuk mereduksi bau yang menyengat.
“Saya menolak menggunakan kata ‘sampah’,” tegas Jemmy. “Karena semuanya bisa digunakan kembali.”
Menatap Masa Depan “Zero Waste”
Meski PPSOT saat ini masih beroperasi setiap tiga hari karena keterbatasan kapasitas, impian Jemmy tetap besar. Ia membayangkan masa depan di mana setiap warga Tomohon terlibat aktif mengelola limbahnya sendiri.
Potensi ini bukan hanya soal kota yang lebih bersih, tapi tentang martabat warga yang tidak lagi harus menghirup polusi. “Jika komunitas mampu mengelola sampahnya sendiri, tekanan pada TPA akan berkurang drastis. Kita bisa mencapai komunitas tanpa sampah,” pungkas salah seorang warga Tomohon Barat optimis.
(Lukhy)







Komentar